Ngobrolin tentang Hari Pendidikan, membuat saya teringat pada masa yang jauh bahkan sangat jauh. Setidaknya ketika saya berusia enam tahun, saat saya masuk di kelas I sebuah SD Swasta di Surakarta. Saya masih ingat saat itu bahwa alat tulis yang saya bawa adalah sabak dan alat penulisnya. Sabak adalah semacam papan tulis sebesar buku bergaris ( separuh folio ) dan alat penulisnya seperti pensil berwarna hitam. Keduanya mirip dengan notebook dan stylus di masa kini. Dengan kedua alat itu saya menulis -memang saat itu buku dari kertas sudah tersedia-. Kadang kadang pekerjaan rumah dibuat/ditulis Sabak tersebut, kemudian besok dibawa/dikumpulkan kepada guru. Saat itu saya merasakan bahwa sekolah adalah sesuatu yang serius, berangkat sekolah harus berjalan kurang lebih 3 km tanpa ada keluhan. Bila musim hujan saya harus memakai payung atau diantar ayah saya dengan sepeda kumbangnya. Sekian puluh tahun berlalu sudah, kini semua sudah berbeda. Barangkali memang tidak layak membandingkannya dengan masa masa kecil saya. Anak anak di kota sudah memakai notebook, handphone, berangkat diantar mobil/motor. Sungguh sebuah hal yang ironis dimana jaman sudah sedemikian maju namun masih ada saja anak-anak yang mendapat kesempatan belajar namun tidak memanfaatkannya dengan baik. Mereka lebih suka nongkrong di game center, menghabiskan waktunya berjam jam didepan komputer ( bisa jadi ngebLog wkwkwk ) untuk hal-hal tak berguna, tawuran dan berkelahi dijalan, membolos sambil nongkrong di tempat bilyard. Sementara di sisi lain ada banyak mereka anak-anak dengan semangat membara dan mimpi yang besar namun tak punya cukup waktu atau uang untuk menggapai pendidikan yang layak. Kelas mereka bocor, banjir, retak hampir roboh, sungguh sebuah kenyataan yang memilukan. Disaat semua maju, ada saja yang tertinggal. Semoga doa kita tak hanya berlalu di bibir saja, namun mewujud dalam uluran yang nyata. Selamat Hari Pendidikan. Majulah bangsaku Indonesia.
*Saya berpikir bahwa blog saya sudah ditutup, eh ternyata masih terbuka, makasih Detik*