Ujung ujungnya tergantung kita

Akhirnya semua semua blog cenderung dipakai sebagai kedai. Ya kalau memang konsepnya untuk berjualan saya pikir tidak ada salahnya. Ada yang butuh uang, ada yang butuh terkenal, ada yang sekedar butuh teman, ada yang butuh ber-curhat, ada yang butuh meneliti ya itulah masing masing kebutuhan blogger sesuai dengan konsep awal blognya masing masing.
Mula mula iseng nulis kemudian berkembang jadi laris. Sayang sekali kalau cuma meringis. Kemudian blog ditempel berbagai asesoris yang kabarnya bisa menghasilkan Dollar. Nulis nulis bahasa Inggris kabarnya buat review padahal ujungnya juga cari duit, sama saja lah. Mau bagaimana lagi sudah tuntutan jaman. Artis juga ngeBlog biar tambah laris. Politisi ngeBlog biar dapat masa. Rohaniawan ngeBlog biar dapet umat, Presiden ngeBlog biar jaga imej. Jika sudah terkenal, penggemar banyak lalu mau diapakan mereka? Tergantung kita lagi, mau dibawa kemana semua ini?
Mari konsisten ngeBlog setidaknya untuk mengisi space di internet.

Komitmen

Saya suka dengan berbagai bentuk arloji, karena arloji bila dipakai seolah bisa menyelaraskan antara si pemakai dengan lingkungannya. Mirip dengan dasi, mirip dengan sepatu, mirip dengan baju. Jika kita ada dalam situasi formal maka tidak tepat jika memakai arloji tipe G-shock yang terkesan sporty. Sebaliknya juga bila kita sedang jogging atau bersepeda maka tidak tepat pula memakai arloji bertatahkan berlian. Namun ada nilai yang lebih dalam sebuah arloji, pada hakekatnya adalah nilai waktu. Sebaik atau seburuk apapun model sebuah arloji, ia akan tetap “dihormati” selama memberikan informasi waktu yang akurat. Belakangan ini saya justru suka memakai arloji Digital dengan penunjuk panel digital 7 segmen. Menurut saya itu lebih mudah dibaca dan tepat adanya. Jika dengan penunjuk panel jarum konvensional maka orang seumuran saya yang sudah ber-kepala empat dan matanya bernilai Plus satu ini akan sedikit kesulitan membaca angkanya. Yach waktu dan kecintaan sering menjadi penyemangat dalam hidup kita, dengan waktu yang berjalan maka seharusnya kecintaan kita terhadap apapun akan semakin kuat. Kecintaan pada pekerjaan, pasangan hidup, anak-anak, benda benda dan tak ketinggalan juga kecintaan pada uang. Maka tidaklah heran banyak orang yang sudah berumur masih saja cinta kepada uang. Sayapun belajar mencintai arloji saya yang sudah lebih 4 tahun tak pernah saya pakai karena modelnya terlalu konvensional, namun saya mencoba menimbulkan rasa cinta itu. Disetiap kesempatan saya mencoba memakainya sebagai kawan penunjuk waktu. Seolah seperti memaksakan diridalam berbagai kondisi saya memakainya. Bekerja, bersantai, berolahraga seperti tak kenal dengan lingkungan dan kondisi saja rupanya. Namun itulah komitmen yang sekarang sudah banyak saya buktikan berdasarkan berlalunya waktu. Komitmen adalah kesanggupan dalam berbagai kondisi. Komitmen terhadap pekerjaan, pasangan hidup, TUHAN, Hobi dan sebagainya. Ada banyak kejadian rusaknya sebuah hubungan rumahtangga karena komitmen yang tidak dilakukan bersama sama, Bersedia mendampingi disaat senang maupun susah. Memang komitmen selalu diuji oleh waktu, seperti arloji tua saya, saya akan mencoba memakainya sebagai simbolisasi sebuah komitmen yang tetap berjalan seiring berlalunya waktu.

Blogger yang bertanggungjawab

Pada awalnya Blog atau Web Log identik dengan sebuah catatan atau laporan harian atau dikenal sebagai sebuah Diary. Diary atau catatan harian yang akan diupdate sesuai dengan urutan waktu. Isinya bisa bermacam macam, mulai dari politik, budaya, kumpulan curhat dan lain sebagainya. Sebagai seorang yang suka menulis didalam blog, memang sebaiknya dan sepantasnya menulis tentang hal hal yang ia kuasai atau setidaknya ia pernah berkecimpung didalam topik topik yang ia tulis. Memang tidak salah seseorang menulis tentang sebuah berita atau kejadian tertentu. Namun harus didasari atas fakta dan etika penulisan yang benar. Tidak memihak atau memojokan pihak tertentu, berimbang dan sebagainya. Namun tentunya tidak banyak orang(baca blogger) yang melakukan hal tersebut. Semudah memiliki sebuah blog, semudah itu pula mereka menulis isinya. Ngalor ngidul, kadang kadang mendiskreditkan pihak tertentu, memojokkan, menulis hanya gosip, rumor, mengadu domba, menilai tanpa fakta, pornografi dsb. Menurut saya kok agaknya mereka tidak pas dinamakan seorang blogger (kecuali memang yang dikuasainya hanya membuat gosip, pornografi, penghinaan dsb) Mereka boleh saja menulis hal hal diluar bidang yang dikuasainya asalkan semuanya harus disertai fakta yang siap dipertanggungjawabkan apabila yang berwenang meminta pertanggunjawabannya. Jika semua orang bisa menulis tentang sesuatu dengan seenaknya, maka tentu pembaca harus lebih selektif membaca dan ikut berpikir apakah tulisan tulisan pada blog tersebut berkualitas atau “sampah”
Menurut pendapat saya hanya blogger blogger yang konsisten dengan isi/konten blognya yang akan tetap dibaca orang. Komentar-komentar yang berbobot adalah cermin dari pembaca yang berkualitas. Pembaca berkualitas hanya membaca blog-blog yang berkualitas pula. Bukan sekedar mampir komen dengan hanya memberikan emoticon senyum saja. Marilah kita menjadi blogger yang bertanggungjawab, ingat tulisan kita adalah cerminan pikiran kita. Semoga bermanfaat.

Belilah gadget secara kredit

Saya lebih suka membeli gadget secara kredit, alasan saya bahwa segala sesuatu yang berbau teknologi apalagi teknologi komputer dan internet selalu berkembang terus menerus. Bahkan belum sampai setahun maka teknologi yang sekarang kita miliki akan usang. Oleh karena itu saya berkeinginan selalu mengupdate teknologi itu setiap tahun alias berganti gadget setiap tahun. Nah rasa rasanya membeli sesuatu produk yang baru setahun harus berganti lagi kok sayang sekali yaa? Untuk menghilangkan rasa eman atau sayang itu saya senang memakai fasilitas kredit nol persen yang banyak ditawarkan oleh penjual penjual handphone seperti Global teleshop atau Oke Shop, Artinya kita seperti menyewa saja setiap bulannya. Setelah akhir tahun kita bisa “menyewa” lagi gadget yang baru dengan teknologi terkini tanpa merasa terbebani harus membayar dimuka. Siapa mau ikut?

Pendidikan masa saya

Ngobrolin tentang Hari Pendidikan, membuat saya teringat pada masa yang jauh bahkan sangat jauh. Setidaknya ketika saya berusia enam tahun, saat saya masuk di kelas I sebuah SD Swasta di Surakarta. Saya masih ingat saat itu bahwa alat tulis yang saya bawa adalah sabak dan alat penulisnya. Sabak adalah semacam papan tulis sebesar buku bergaris ( separuh folio ) dan alat penulisnya seperti pensil berwarna hitam. Keduanya mirip dengan notebook dan stylus di masa kini. Dengan kedua alat itu saya menulis -memang saat itu buku dari kertas sudah tersedia-. Kadang kadang pekerjaan rumah dibuat/ditulis Sabak tersebut, kemudian besok dibawa/dikumpulkan kepada guru. Saat itu saya merasakan bahwa sekolah adalah sesuatu yang serius, berangkat sekolah harus berjalan kurang lebih 3 km tanpa ada keluhan. Bila musim hujan saya harus memakai payung atau diantar ayah saya dengan sepeda kumbangnya. Sekian puluh tahun berlalu sudah, kini semua sudah berbeda. Barangkali memang tidak layak membandingkannya dengan masa masa kecil saya. Anak anak di kota sudah memakai notebook, handphone, berangkat diantar mobil/motor. Sungguh sebuah hal yang ironis dimana jaman sudah sedemikian maju namun masih ada saja anak-anak yang mendapat kesempatan belajar namun tidak memanfaatkannya dengan baik. Mereka lebih suka nongkrong di game center, menghabiskan waktunya berjam jam didepan komputer ( bisa jadi ngebLog wkwkwk ) untuk hal-hal tak berguna, tawuran dan berkelahi dijalan, membolos sambil nongkrong di tempat bilyard. Sementara di sisi lain ada banyak mereka anak-anak dengan semangat membara dan mimpi yang besar namun tak punya cukup waktu atau uang untuk menggapai pendidikan yang layak. Kelas mereka bocor, banjir, retak hampir roboh, sungguh sebuah kenyataan yang memilukan. Disaat semua maju, ada saja yang tertinggal. Semoga doa kita tak hanya berlalu di bibir saja, namun mewujud dalam uluran yang nyata. Selamat Hari Pendidikan. Majulah bangsaku Indonesia.

*Saya berpikir bahwa blog saya sudah ditutup, eh ternyata masih terbuka, makasih Detik*

Next Page »