Feed on
Posts
Comments

Meniti Hidup, perlu beban

Suatu saat saya melihat pertunjukan sirkus di televisi, terdapat seorang hendak menyebarang dengan meniti melalui seutas kawat baja. Laki laki itu menyeberang dengan membawa sebilah bambu panjang yang dipegangnya secara melintang, dan satu dua tiga… yaaah dia berjalan dengan santainya sambil kadang kadang mengangkat satu kakinya, padahal kedua tangannya membawa sebilah bambu tersebut. Saya kemudian teringat pada perjalanan hidup manusia seperti meniti seutas kawat baja kehidupan kita masing masing. Bilah bambu identik dengan beban kehidupan kita. Acapkali kita mengeluh pada Tuham, :”Ooh Tuhan betapa beratnya beban hidupku? Mengapa tak kau ambil saja beban ini?” Ternyata beban hidup diperlukan untuk menyeimbangkan hidup kita. Agar jalan kita menjadi seimbang dan tidak terjatuh ditengah tengah kita meniti hidup. Beban akan membuat kita ber hati hati menjalani hidup kita. Seringan apapun beban itu tetap ada. Jadi jangan pernah mengartikan kalau seorang yang berlimpah harta kekayaan tak pernah punya beban. Merekapun punya beban sesuai dengan kondisi masing masing. Jadi mengapa mesti takut membawa beban. Percayalah bahwa Tuahn tak memberi beban melebihi kekuatan kita.

Bau Tanah

Istilah ini sering kita dengar untuk mengungkapkan sebuah arti tersirat tentang seseorang yang sudah lanjut usianya. “Oow bapak “x” sudah berusia 90 tahun, pantaslah sudah bau tanah” demikian sering disebut orang. Namun bau tanah yang saya maksudkan adalah benar benar bau tanah yang didapatkan oleh indra penciuman kita. Bau tanah akan muncul manakala tersiram sedikit air hujan atau sedikit air yang disiramkan diatasnya. Atau bau tanah acapkali muncul setelah hujan reda. Baunya khas, bukan tidak enak. Namun bau ini seringkali membawa alam pikiran saya ke sekian puluh tahun yang lalu, saat saya masih kecil barangkali saja berusia sekitar 5 atau 6 tahun, begitu suka dengan bau tanah ini. Mungkin bau ini akan menjadi kuat ketika rumah yang kita huni memakai genting yang berbahan tanah, bau tanah dari genting yang tersiram air hujan sangat kuat kesannya. Entahlah kenapa bau ini membuat hati menjadi tenteram, fikiran menjadi tenang, emosi menjadi terkendali. Ataukah sebenarnya bau tanah mengilhamkan pada kita tentang “tanah” sebagai asal usul penciptaan kita. Penciptaan manusia oleh Tuhan yang ber”media” kan tanah, mengingatkan kita agar selalu ingat dan eling kepada Tuahn sang Maha Pencipta. Atau secara metafisik bau tanah membuat kita tenang karena bau tanah sesungguhnya menghubungkan “ground” atau Nol yang artinya melepas segala muatan muatan negatif menuju ke tanah sebagai lautan zero. Beban beban kehidupan yang berat, iri hati, kebencian, amarah semuanya di “ground” kan agar menjadi netral kembali tak ber efek buruk bagi hidup kita. Atau bau tanah berarti kita mencium tanah , bersujud syukur pada Tuhan. Semoga menginspirasi.

Mari memilih..!

Hari ini bangsa Indonesia kembali menyelenggarakan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil presiden. KPU sebagai penyelenggara pemilihan umum cukup banyak menerima masukan sekaligus cacian dari berbagai pihak. KPU sudah cukup pusing memikirkan mekanisme yang harus dipakai dalam menyelenggarakan Pemilu supaya mendapatkan hasil yang jujur, cepat dan tidak bertele tele. Sebagian orang bahkan beberapa mahasiswa berteriak dalam demo demonya menyerukan agar tidak ikut dalam Pemilu presiden alias golongan putih. Hampir setiap ada pemilihan presiden selalu ada saja mereka yang menyerukan dan mengajak agar tidak mencoblos/mencontreng. Seolah mereka itu adalah warga negara kelas satu yang ingin diperlakukan secara khusus dan spesial. Saya pribadi lebih melihat bahwa ini bukan lagi sekedar hak atau kewajiban namun lebih kepada sebuah Kesempatan. Mengapa kita tidak memakai kesempatan yang diberikan oleh Pemerintah untuk ikut partisipasi memilih pemimpin bangsa ini. Nah kalau untuk nyontreng saja kita tidak mau, apa kita pantas berteriak teriak mengkritisi pemerintah. Kalau saya kok rasanya malu. Hidup didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah rahmat dan berkat dari sang Pencipta. Lihat negara negara Amerika memerlukan berapa ratus tahun untuk sampai pada kedewasaan berpolitik. Jadi saya bisa memaklumi kondisi yang terjadi di dalam negeri Indonesia. Memang kedewasaan berpolitik memerlukan jam terbang yang cukup. Namun dibalik semua itu marilah jangan segan menggunakan kesempatan memilih Anda. Tidak ada sebuah aturan yang bisa memuaskan semua orang, kalau di perusahaan dimana Anda bekerja kebetulan ada peraturan yang tidak saudara setujui, apakah Anda akan protes atau malah mogok tidak bekerja?
Saya teringat suatu slogan “ Jangan tanya apa yang sudah diberikan negara kepadamu, namun bertanyalah apa yang sudah kauberikan untuk negaramu”. Semoga coretan ini menginspirasi. Selamat Memilih..

Serba taintment

Di jaman yang sangat menghimpit dan penuh dengan persaingan ini, setiap manusia memerlukan sarana hiburan yang bisa membuat dirinya bernafas lebih lega dan merasa bahwa bebannya sedikit terangkat. Berbagai media hiburan mulai dari radio, televisi, televisi berbayar, siaran parabola, koneksi internet, majalah, suratkabar, tabloid, komik, novel hampir semuanya mengandung unsur entertaintmen dalam konten nya. Cobalah kita perhatikan bersama hal hal yang sedang terjadi di sekitar kita, mulai dari nonton bareng balap motoGP nampaknya nonton sendiri mempunyai preferensi yang lebih rendah dibandingkan dengan nonton bersama karena rasanya lebih seru, debat calon presiden yang baru baru saja kita saksikan juga dikemas oleh stasiun televisi dalam bentuk semi entertaintment. Dimana disana ada beberapa penyanyi yang ikut menyemarakan acara melalui lagu lagunya, kampanye calon presiden juga demikian, kalau jenis ini sudah pasti full entertaintment mulai dari penyanyi, komedian, pesulap semua bisa ikut menghibur dalam acara tersebut. Rencananya Quick Count pemilihan presiden juga akan dikemas dalam bentuk entertaintment, jadi sambil mengikuti Quick Count para pemirsa bisa menikmati selingan selingan segar dari artis artis. Pemakaman The King of Pop meskipun dalam selimut duka dan kekecewaan penggemarnyapun nampaknya juga akan menjadi entertaintment tersendiri bagi pemirsa televisi yang akan menyaksikan siaran langsung Upacara Pemakamannya. Bahkan tiket pemakaman gratis juga sudah dibagikan kepada mereka yang meregistrasi melalui internet, ada kurang lebih 17.000 free ticket yang sudah dibagikan. Betapa ini menunjukkan bahwa memang manusia sudah haus dengan hiburan. Saya juga melihat di beberapa pemakaman mereka yang beragama Kristenpun dilakukan doa doa penghiburan untuk keluarga yang ditinggalkan. Sehingga suasana duka berbaur dengan gema paduan suara dan iringan keyboard.
Dengan upaya upaya semacam itulah kita manusia mencoba memberi arti berbeda pada kejadian yang dihadapinya, yaitu membuat sesuatu yang menyenangkan untuk dirinya. Hiburan memang menjadi sebuah barang berharga di saat menjalani hidup yang penuh dengan tekanan. Semoga kita bisa saling berbagi sukacita dan menghibur bagi sesama.

Warna dan Brand

Warna memegang peran penting didalam brand merk. Penetapan warna perlu dilakukan dengan berhati hati dengan mengingat produk atau jasa yang hendak Anda pasarkan. Masing masing warna secara visual memberikan dampak yang sangat kuat secara psikologi kepada customer. Brand dengan warna warna tertentu seolah sudah mengatakan banyak hal tanpa harus bertele tele diungkapkan secara verbal. Pemilihan warna sebaiknya dilakukan dengan keputusan yang matang mengingat warna ini akan dipakai dalam jangka panjang. Salah dalam menentukan warna bisa berakibat Brand kesulitan untuk berkembang. Di Indonesia sendiri kalau kita perhatikan bersama pada operator seluler saja masing masing sudah mempunyai ciri khas warnanya masing-masing. Telkomsel dengan warna merahnya, Indosat dengan warna kuningnya, Fren dengan warna birunya, Three dengan warna oranye, Axis dengan warna ungunya. Khusus Flexi memang ada tiga warna yang dianutnya kuning, merah dan hijau. Bagaimana menurut Anda? Apakah dengan kombinasi 3 warna tersebut Brand Flexi tertanam cukup kuat di benak customernya ?
Berikut beberapa pedoman warna dan maknanya yang bisa dipakai sebagai pedoman bagi pemasar :

Merah : agresivitas, passion, kekuatan, vitalitas ( contoh : Telkomsel )
Pink : feminim, kelembutan, kesehatan.
Oranye : keceriaan, fun, kemewahan. ( Contoh : Three )
Hijau : ketenangan, kesegaran, kesehatan ( Contoh : Rinso )
Biru : kekuasaan, kehormatan, keamanan, bisa dipercaya.(Contoh : BCA)
Kuning : warna optimis yang melambangkan respon yang positif
Ungu : sophisticated, spirituallity, misterius, mahal.
Coklat : berhubungan dengan bumi, kayu, kekayaan.
Putih : kemurnian, kontemporer, kenyataan ( ingat papan nama kantor/dokter memakai dasar putih )
Abu abu : kekuasaan, praktis, korporat, konservatif.
Hitam : klasik, serius, berbeda.

Apakah warna merk produk atau jasa Anda sudah sesuai dengan pedoman tersebut? Semoga ulasan saya bermanfaat.

Older Posts »